2015
03.24

Mengenal Metode Glenn Doman

Di postingan kemarin, saya menyinggung soal metode Glenn Doman. Sekilas, yang saya tahu soal metode ini adalah:

  1. Metode untuk mengajar membaca ke anak balita (mungkin malah batita)
  2. Metode ini berasal dari US
  3. Salah satu praktisi yang terkenal di Indonesia adalah Ibu Irene F. Morang

Seperti biasa, kita minta petunjuk ke Mbah Google. Dengan kata kunci “Glenn Doman”, tautan pertama langsung menuju ke website www.iahp.com (The Institutes for the Achievement of Human Potential). Di web ini ternyata ada halaman dikhususkan untuk Bapak Glenn Doman.

Almarhum Glenn Doman

Glenn Doman mendirikan The Institutes for the Achievement of Human Potential. Institusi ini sudah membantu orang tua dari berbagai benua lebih dari setengah abad. Agak sulit untuk menentukan apakah beliau dan institusi ini lebih terkenal karena memulai metode penyembuhan untuk anak-anak yang mengalami cidera otak, atau lebih terkenal karena metode pengembangan otak sejak dini untuk anak-anak.

Beliau sudah menangani secara langsung lebih dari 25 ribu keluarga dalam kurun 50 tahun terakhir. Beliau juga menginspirasi jutaan keluarga lain melalui buku “What To Do About Your Brain-Injured Child“, dan seri buku mutakhir “Gentle Revolution” yang mengajari para orang tua bagaimana memberi stimulasi dan mendidik bayi-bayi mereka di rumah.

Wah beliau terkenal karena pekerjaan mulia yaitu membantu anak-anak yang mengalami cidera otak. Beliau juga terkenal karena menciptakan buku-buku mengenai penanganan cidera otak pada anak, juga buku-buku mengenai pendidikan usia dini pada anak.

Langsung deh cek Amazon :D Wah banyak sekali bukunya coy..

Dari semua buku diatas, sepertinya buku ini yang dijadikan acuan oleh Ibu Irene.

Kira-kira apa ya isinya buku ini? Untuk itu saya melihat komentar-komentar negatif dari para pembeli buku ini. Kenapa komentar negatif? Karena pasti mereka sudah membaca, sudah mempraktekkan, tetapi tidak berhasil :D

Buku ini bagus karena memberikan informasi yang bagus mengenai perkembangan kecerdasan anak. Buku ini juga mengajari orang tua untuk menyisihkan waktu untuk bonding dengan anak mereka. Buku ini juga sangat bagus untuk para orang tua baru karena akan membantu para orang tua untuk menyiapkan diri dalam pendidikan anak usia dini. Masalahnya, metode yang digunakan di sini tidak terlalu praktis, terutama dalam menyiapkan kartu-kartu bacaan. Tapi dari buku ini saya menjadi sadar untuk rajin mengulang dalam mengajar. Dengan sering mengulang-ulang kata yang sama ke bayi, mereka akan cepat bisa meniru/mengucapkan kata tersebut.

Kesimpulan Sementara

Setelah membaca banyak komentar-komentar baik positif maupun negatif, saya menarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Metode Glenn Doman memerlukan waktu yang cukup banyak dan harus konsisten setiap hari. Mungkin cocok jika jika hanya mempunyai anak semata wayang, tapi menjadi cukup berat ketika ada lebih dari satu anak yang harus ditangani Ibu.
  2. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan “Flash Card”. Jadi lebih ke bagaimana anak bisa melihat dan mengingat bentuk suatu huruf/kata.
  3. Orang tua membuat proses belajar menyenangkan. Karena sudah terjadi contoh dimana anak bisa membaca, tapi jadi benci membaca

Insya Allah nanti saya akan mengulas lebih dalam metode Glenn Doman setelah saya membaca bukunya. :D

Semoga membantu,

Wassalamualaikum

Worth sharing, No?

  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
2015
03.23

Another night, another win. Last night game was very important for both United and Liverpool. Both teams are fighting to secure the 4th position in the Premier League. Prior to the game, United is ahead with 64 points. Two points more than Liverpool. With this win, the gap is now widen to 5 points.

Liverpool started brightly. At 3′, they dangerously almost scored as Raheem Sterling nutmegged Phil Jones inside the box. Luckily, De Gea quickly captured the ball before Sterling. It seems Daley Blind was really having hard time marking a quick player like Sterling.

Then came the first goal. Ander Herrera spotted Juan Mata running unmarked. With a sublime pass from Herrera, Juan Mata lashed a powerful shot to bottom left corner. GOALLLL!!! Mata was inches short from offside. Apparently it was Martin Škrtel who played Mata onside. Although with few scares, the score remained 1-0 for United until the end of the first 45 minutes.

The second half started with Steven Gerrard entered the field. His first action was an untasteful strong tackle on Juan Mata. Then Gerrard himself received a very strong tackle from Herrera, albeit no touches. Unfortunately, Gerrard reacted by stamping on Herrera in front of the referee. Martin Atkinson saw the incident clearly and gave Gerrard a straight red card.

The second goal was out of this world. Herrera was approaching Liverpool’s box with the ball. As he arrived on his range, he lashed a shot only to be blocked by Liverpool’s defence. The ball spilled to Mata, which he then controlled it briefly, passed it to Angel Di Maria, then making a run into the box. Seeing that Mata is unmarked, Di Maria lobbed the ball accurately in front of Juan Mata. Mata then welcomed the ball with a flying-scissors kick aimed at the left corner. GOALLLL!!! What a brilliant brilliant goal! :D

Below is the rest of the highlights:

Things are getting more interesting now. In the table, United is now third with 59 points. Meanwhile, our noisy neighbour, City, is at second position with 61 points.
Glory, glory, Man United! The chance of finishing the season at 2nd position is now within grasp.

Worth sharing, No?

  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
2015
03.22

Hari Sabtu kemarin Istri pergi mengikuti seminar mengenai pengajaran bahasa Inggris ke anak. Pembicara utama dalam seminar ini seorang pakar pendidikan anak bernama Irene F. Mongkar.

Wah, ndak kenal nih sama sosok Bu Irene. Kuketik nama beliau di Google Chrome punya address bar, dan kutekan tombol ENTER. Wah banyak juga hasilnya. Google menunjukkan bahwa ada kurang lebih 4100 tautan website. Ketika saya lihat di “Image Search Result”, banyak sekali foto-foto Bu Irene yang ditampakkan. Dari sekian banyak tautan, saya kunjungi beberapa. Tautan yang menurut saya menarik, saya tulis di bawah ini.

Tautan Pertama

Tautan pertama di hasil pencarian adalah sebuah postingan di blog yang dikelola oleh Mbak Aien Hisyam. Bukan link baru sih, postingan ini diunggah tanggal 9 September 2009. Jadi Mbak Aien ini pernah mewawancarai Bu Irene. Dan ternyata semua postingan di blog Mbak Aien itu adalah artikel-artikel yang sudah pernah dimuat di rubrik Cermin, Tabloid Wanita Indonesia.

Setelah membaca artikel itu, saya jadi tahu bahwa:

  1. Bu Irene dulunya General Manager di Tira Pustaka
  2. Bu Irene ini terkenal sebagai praktisi Glenn Doman (wah apa lagi ini? :D). Jadi beliau mengajari anak semata wayangnya, Dhea, membaca dari umur 3 bulan (apaa???). Dan sukses, Dhea sudah bisa membaca di usia 3 tahun
  3. Berkat keberhasilan ini, Bu Irene mulai mengadakan seminar untuk menceritakan bagaimana seorang anak baru berumur 3 tahun sudah bisa membaca

Wah kalah dong saya :D Saya dulu baru bisa membaca ketika TK nol besar, alias hampir 6 tahun. Hanya begitu saja, saya ingat betul betapa bangga orang tua saya. Apalagi ini baru berumur 3 tahun sudah bisa baca, pantaslah kalau sampai dibikin seminar … Hehehe

Tautan Kedua

Tautan kedua yang kuanggap menarik adalah postingan di blog Mbak Marita Ningtyas. Yang ini fresh nih, baru diunggah Februari 2015. Postingan ini aku temukan ketika aku melihat gambar-gambar di hasil pencarian Google. Trus aku melihat foto di bawah ini.

Credit: Marita Ningtyas

Credit: Marita Ningtyas

Di postingan mbak Marita, dia bercerita tentang seminar Bu Irene yang diadakan di Hotel Normans, Semarang pada tanggal 15 Februari 2015. Di dalam seminar itu mbak Marita belajar mengenai pentingnya menstimulasi anak sejak dini. Karena masa golden ages anak–masa dimana pertumbuhan otak anak maksimal– adalah di usia 6 bulan sampai 6 tahun, maka sangat penting untuk menstimulasi anak di usia ini.

Di seminar itu, Bu Irene memberi tips bagaimana kita bisa menstimulasi anak. Salah satunya adalah melalui buku. Ya, buku. Jadi bukan handphone, iPhone, iPad, atau Samsung Galaxy Tab. Salah satu buku yang Bu Irene sangat rekomendasikan adalah buku Widya Wiyata Pertama (WWP). Satu koleksi lengkap WWP harganya sekitar 8 juta rupiah, cukup mahal untuk ukuran mayoritas rakyat Indonesia. Tapi Bu Irene menekankan bahwa ini adalah investasi orang tua untuk masa depan anaknya.

Satu paket lengkap WWP berisi 24 buku. Jadi ya satu buku nilainya kurang lebih 400 ribu rupiah. Tapi jangan salah, WWP bukan sekedar buku biasa. Selain hardcover dan dicetak di kertas yang berkualitas dan lebih tebal dari HVS. WWP juga dilengkapi dengan penanda elektronik canggih. Jadi anak bisa menggunakan pena elektronik, untuk disentuhkan di bagian tertentu dari buku, maka keterangan tambahan dalam bentuk suara akan dibunyikan di “speaker”.

Paket lengkap Widya Wiyata Pertama

Paket lengkap Widya Wiyata Pertama

Seminar di Batam

Kayaknya udah kepanjangan ini bagian mencari tahu siapa itu Bu Irene F Mongkar :D. Oh ya, sepulang dari seminar, saya tanya Istri bagaimana kesan dan pesan setelah mengikuti seminar tadi. Setelah mendengar cerita Istri, saya jadi sedikit heran. Kok cerita Istri hampir sama ya dengan yang diceritakan Mbak Marita. Yaitu mengenai stimulasi anak sejak dini, pengenalan buku, dan bagaimana buku Widya Wiyata Pertama, walau mahal, sangat bagus untuk menstimulasi anak.

Saya kejar lagi, “Bagaimana dengan melatih anak bahasa Inggris di rumah? Apa yang bisa kita segera praktekkan?”

Istri pun menyebut beberapa hal:

  1. Aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Jadi anak harus sering diajak ngomong dalam bahasa Inggris. Jadi pengajarannya tidak lewat pengenalan grammar, tapi lebih ke percakapan. Untuk menambah vocabulary anak, sangat dianjurkan menggunakan flash card.
    Transportation
  2. Konsistensi. Ketika berkomunikasi dengan anak dalam bahasa Inggris, kita sebaiknya tidak mencampur-adukkan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Jadi ketika kita menanyakan satu topik ke anak, misalnya mengenai sekolah, maka dalam satu topik ini kita harus konsisten dalam bahasa Inggris. Ketika kita memperkenalkan topik baru, nah di sini kita bisa berganti kembali ke bahasa Indonesia
  3. Koreksi. Ketika anak tidak bisa menjawab pertanyaan kita dalam bahasa Inggris, anak cenderung menjawab sekenanya. Nah di sini orang tua harus segera mengoreksi. Mengoreksi ya, bukan memarahi. Dengan tutur kata yang baik, kita ajari sang anak bagaimana menjawab pertanyaan tadi dalam bahasa Inggris dengan benar.
  4. Kontinuitas. Jadi orang tua harus sering-sering, diusahakan setiap hari, untuk mengajak anak berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ketika hari ini anak salah menjawab, maka orang tua mengajari jawaban yang benar, dan besoknya pertanyaan yang sama ditanyakan kembali

Nah, ini baru greget. Sebetulnya di rumah kami, Airen, sudah lumayan aktif kita ajak komunikasi dalam bahasa Inggris. Tapi mungkin masih kurang dalam konsistensi dan kontinuitas. Ini yang kami harap bisa kami tingkatkan di waktu mendatang.

Ok gitu. Berhubung bukan saya yang datang ke seminar, jadi yang saya tulis di sini mungkin melebihkan atau mengurangkan. Kalau ada koreksi atau tambahan informasi, kasih komentar di bawah ya?

Wassalaamualaikum Wr. Wb.

Worth sharing, No?

  • Facebook
  • Twitter
  • Google
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS