browse by category or date

My friend tweeted me today about Gizmodo’s frontpage which is covering the confession of PowerBalance that they are actually a scam.

First time I heard about PowerBalance was when my wife showing me an advert, and said that our nephew is wearing it. She went on and tell me how our nephew loves to play basketball and claiming that he had some sort of improvements after wearing PowerBalance.

I was skeptical as I can’t explain how the hell a wristband can improve on how you jump, how you calibrating your power and correctly aiming as you leap and make that three-point-shot. I immediately dismissed it and closed the discussion by changing it to other topic :).

PowerBalance3When I read the Gizmodo article today, I realized something. It’s the placebo effect. The placebo effect is a phenomenon whereby a patient was able to recover/improv eventhough he/she was given a sham prescription. The wikipedia article explains further that placebo only works to some people.

As of PowerBalance goes, I think it’s just a placebo for your self-confidence. It’s similar to your lucky boot that helped you to score goals in soccer match. As Stephanie L. Stoltz puts it, there is a connection between confidence and performance:

… In my results, I found that there is a significant decrease in the performance of individuals with lowered self-confidence. I also found that there is a significant increase in the performance of individuals with higher self-confidence …

The problem with a placebo is that it will stop working once the patient realized that it is a placebo, not a real medicine.

Now that they have openly declare that it is a ‘placebo’, will you still wear it?

About Hardono

Hi, I'm Hardono. I am working as a Software Developer. I am working mostly in Windows, dealing with .NET, conversing in C#. But I know a bit of Linux, mainly because I need to keep this blog operational. I've been working in Logistics/Transport industry for more than 9 years.

A very very very inspiring essay from E.S. Ito to Indonesian Football Team. I felt my chest heavy when I read it.

Originally taken from Surat Untuk Firman

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

About Hardono

Hi, I'm Hardono. I am working as a Software Developer. I am working mostly in Windows, dealing with .NET, conversing in C#. But I know a bit of Linux, mainly because I need to keep this blog operational. I've been working in Logistics/Transport industry for more than 9 years.

My wireless modem died since last week. Sent them to Huawei Service Center:

Huawei Service Center
No. 2 Handy Road
The Cathay
#04-13
Singapore 229233


Unfortunately until now I haven’t heard from them. I was going to call them, but Google couldn’t give me the hotline number. So I called Huawei Singapore HQ and asked for the Service Center Hotline number. So here they are, I put the info under a H1 HTML tag so that Google will notice it, and able to give this number to anyone who’s looking for it.

Huawei Singapore Service Center Hotline: 67389193

About Hardono

Hi, I'm Hardono. I am working as a Software Developer. I am working mostly in Windows, dealing with .NET, conversing in C#. But I know a bit of Linux, mainly because I need to keep this blog operational. I've been working in Logistics/Transport industry for more than 9 years.